BERKARYAOleh: Ignas Praditya Putra
Menerawang Masa DepanSiapa yang bisa? Nostradamus mungkin, atau yang lokal Jayabaya, atau yang masa kini Mama Lauren mungkin bisa. Tapi saya sendiri tidak menerima karunia itu. Sehingga sama seperti sebagian besar manusia di dunia, ketika saya mulai memasuki masa di mana saya harus menentukan masa depan, keraguan muncul dalam pikiran. Mau ke mana saya? Mau apa? Bagaimana saya atau kita semua di masa depan? Pertanyaan-pertanyaan ini mulai berkecamuk pada penghujung masa SMA saya, juga teman-teman. Kami saling berdiskusi, mau kuliah di mana, jurusannya apa, atau bahkan memutuskan langsung bekerja saja. Bagaimanapun suatu hari kita pasti akan lepas sepenuhnya dari pengaruh orangtua, memutuskan tiap langkah kita sendiri, menghidupi diri sendiri, membangun bahtera rumah tangga kita, apapun semuanya sendiri. Dan inilah di mana kita masuk dalam masa dewasa.
Dalam diskusi dan perdebatan mengenai hal ini bersama teman-teman, muncul satu pendapat yang umum terjadi di sebagian besar remaja yang mulai memikirkan masa depannya, yaitu bahwa kita perlu meneruskan studi kita ke perguruan tinggi tidak lain untuk bekerja. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “Mau kerja di mana kita?”. Di mana pekerjaan yang gajinya besar? Pekerjaan apa? Lalu untuk mencapai angan-angan mengenai pekerjaan mulia itu kita mulai memilih jurusan kita masing-masing di bangku kuliah, berlomba-lomba mencari perguruan tinggi yang berkualitas dan menjamin mudahnya mendapatkan lapangan pekerjaan setelah lulus.
Mungkin hanya ini yang bisa kita lakukan untuk melihat masa depan. Saya sebut menerawang, melihat menembus waktu dan ruang, tapi tak mengawang-awang. Masa depan adalah sebuah visi tak terlihat, abstrak, tak pasti, sebuah cita-cita yang kita perjuangkan agar tercapai. Hal ini didasari banyak pertimbangan mengenai minat dan bakat kita, sumbang saran dari para guru, masukan dari orangtua dan teman, dan mungkin mempertimbangkan di mana pacar kita akan kuliah nantinya supaya kita tetap bisa dekat dengannya. Belum lagi pendapat-pendapat yang membuat kita bingung atas apa yang kita lakukan, misalnya “Mau kuliah apapun juga tidak menjamin dapat pekerjaan yang bagus.”
Menjelang Ujian Akhir Nasional 2005, masa akhir saya di SMA, semua pendapat itu berkecamuk di kepala. Dan tiba-tiba tercetus satu pendapat pribadi yang mungkin menjadi jawaban saya untuk semua itu. Semua orang bertanya, “Mau kerja di mana nanti?” tapi saya berpendapat sedikit berbeda. Mengapa berorientasi “bekerja di...”? Haruskah kita bergantung pada apa lapangan pekerjaan yang ada? Apa kita lulus kuliah hanya untuk bekerja di perusahaan orang lain? Atau mengandalkan lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah?
Begitu banyak bidang pendidikan di perguruan tinggi. Banyak pilihan jurusan dan pekerjaan yang berdasarkan jurusan tersebut. Namun hanya untuk tujuan “bekerja” sajakah? Beragamnya ilmu itu masing-masing bisa kita gunakan untuk membangun bangsa kita menjadi lebih maju. Namun mau majukah kita? Atau kita hanya ingin menjadi manusia-Indonesia-sekedar-berilmu-untuk-bekerja-menyambung-hidup saja?
Menjadi IndependenSaya ingin berkarya. Itu keinginan. Lebih dari itu, itu kebutuhan saya. Kebutuhan semua orang, seharusnya –idealnya. Berkarya menurut saya merupakan bukti bahwa kita hidup, tidak hanya karena kita berhasil bertahan hidup. Kita berpikir maka kita ada, kata Descartes. Bila kita berpikir, kita mencari makna. Berarti hidup pun harusnya penuh makna. Memberi makna bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Melalui karya ilmuwan-ilmuwan tersohor, kini kita bisa menikmati malam yang terang oleh lampu, jarak yang dekat karena adanya kendaraan bermotor, komunikasi yang cepat karena telepon, memori yang mampu tertangkap oleh selembar kertas, berita yang mudah dicerna dalam bentuk audio-visual pada tayangan televisi, dan berbagai teknologi lain yang begitu memudahkan kita di era modern ini. Tak hanya itu, ini adalah era globalisasi, di mana dunia menjadi seakan sempit. Informasi dari berbagai belahan dunia dapat kita akses di manapun, apalagi dengan berkembangnya teknologi internet.
Di tengah mudahnya akses informasi, yang berarti memudahkan orang untuk belajar seluas-luasnya, tingkat pengangguran di Indonesia masih tetap tinggi. Dari situs resmi Sekretariat Negara Republik Indonesia pada Februari 2008, tercatat jumlah pengangguran sebanyak 9,43 juta jiwa (8,46% dari total penduduk Indonesia), sementara jumlah lapangan pekerjaan dari sektor swasta maupun pemerintah tidak berkembang dengan selayaknya. Pemerintah memang merencanakan diadakannya 3 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2009, namun lebih pada proyek-proyek infrastruktur yang tidak berkelanjutan. Mengandalkan tersedianya lapangan pekerjaan berdasarkan adanya investor asing pun kini sulit akibat adanya krisis global.
Saya termasuk beruntung bisa menikmati fasilitas yang mendukung studi saya. Saya besar dalam lingkungan yang berkecukupan sehingga saat ini belum perlu memikirkan bagaimana saya makan hari ini, alhamdulillah. Namun studi saya di bidang ilmu sosial membuat saya tidak mampu memalingkan muka dari realita sosial. Bangsa kita begitu majemuk dengan beragam etnik, budaya, dan kearifan lokal, didukung dengan begitu kayanya sumber daya alam kita. Sayangnya berapa banyak insan-insan potensial, anak banga yang mampu menggarapnya? Tak jarang sarjana negeri kita yang terpaksa berkiprah di negeri orang karena tak adanya fasilitas yang mendukung keinginan mereka untuk berkarya di negeri sendiri. Tak hanya itu, kesadaran wirausaha kreatif yang minim serta diperparah keadaan pendidikan negeri kita yang tak memadai, menciptakan moralitas anak bangsa yang begitu-begitu saja, tak berkembang.
Koentjaranigrat pernah berkata di tahun 1970 bahwa bangsa Indonesia belum siap untuk pembangunan karena mentalitasnya yang lebih suka memilih jalan pintas tanpa memedulikan kualitas. Pernyataannya terasa masih relevan hingga sekarang. Terlihat dari sistem pendidikan sendiri di mana masih banyak yang “berjuang” mendapatkan bocoran soal/jawaban ujian nasional, menjamurnya penjualan ijazah palsu, sistem belajar kebut semalam, pembuatan “prasasti” contekan di meja-meja kelas, dan lain-lain.
Bila kita sepakat ingin bersama maju, pertama masing-masing dari kita insan muda bangsa perlu menyadari realita ini. Dari diri sendiri, kita perlu membuka lebar-lebar pikiran kita terhadap hal-hal baru dan kreatif lalu mengembangkannya. Jiwa bersaing pun perlu ditumbuhkan secara pribadi. Bila tak ada yang mengajarkan, minat membaca kita yang akan berperan. Ya, membaca adalah kunci jendela dunia. Tumbuhkan semangat independen di dalam diri kita. Tidak berarti menjadi individualis, namun independensi di sini lebih merupakan sebuah motivasi untuk berkembang tanpa ketergantungan yang timpang. Sikap saling mendukung, tidak menjatuhkan atau melecehkan sangat penting untuk kemajuan kita bersama.
Dari segi pendidikan, penting pula disadari kembali makna “pendidikan” yang telah kita sepakati istilahnya. Bangsa Indonesia memilih istilah pendidikan bukan pengajaran, karena apa yang kita bentuk bersama adalah generasi baru yang berguna dan berakhlak baik, tidak sekedar dalam hal pengetahuan belaka. Melalui pendidikan, moralitas bangsa yang kuat terbentuk. Karena itulah sistem pendidikan Indonesia harus menyadari hal ini dan mengantisipasinya. Tentu tanpa mengesampingkan kenyataan akan beragamnya budaya dan potensinya di masing-masing daerah, sehingga semakin baik bila otonomi daerah berjalan dengan baik.
Sekarang kembali tergantung pada diri kita masing-masing. Setidaknya saya tidak akan bertanya kepada kamu, mau kerja di mana, melainkan, “Untuk dirimu, untuk Tanah Air, apa yang akan kamu karyakan?”